Monarki di alam demokrasi; mungkinkah? (Kraton Solo III)

Setengah abad lebih Keraton Kasunanan Surakarta berada pada era kemerdekaan. Selama itu pula, Keraton baru dipimpin oleh seorang raja, yakni Paku Buwono XII. Sementara generasi pendahulunya juga tidak secara bijak bisa memberikan pola kepemimpinan yang terarah, karena setiap generasi memberikan sistem sendiri. Continue reading

Keraton Kasunanan: Gari Sakmegaring Payung? (Kraton Solo II)

Pemerintah Belanda memang menjadi penjamin utama seorang Kangjeng Pangeran Adipati Anom bisa mulus mewarisi tahta kerajaan. Belanda dianggap mewujudkan stabilitas atas kerajaan-kerajaan di Jawa yang bertikai akibat pergantian kekuasaan. Ini ditunjukkan dengan struktur politik dan ekonomi di Mataram yang relatif semakin stabil setelah perang Pangeran Diponegoro 1825-1830, meskipun Belanda tetap mengeksploitasi kekayaan alam yang ada. Continue reading

Mataram dan Intrik Kepemimpinan (Kraton Solo I)

Nut jaman kelakone, adalah sebuah istilah Jawa yang sangat sering disinggung ketika suatu perubahan telah terjadi. Arti harfiah dari kalimat itu kira-kira, seorang manusia dalam kehidupannya harus bisa menyesuaikan diri sesuai dengan perubahan zaman yang memang telah dikehendaki oleh Tuhan. Pengertian simpel seperti itu, sesungguhnya memiliki banyak makna secara filosofis bagi seorang manusia Jawa. Continue reading