Monarki di alam demokrasi; mungkinkah? (Kraton Solo III)

Setengah abad lebih Keraton Kasunanan Surakarta berada pada era kemerdekaan. Selama itu pula, Keraton baru dipimpin oleh seorang raja, yakni Paku Buwono XII. Sementara generasi pendahulunya juga tidak secara bijak bisa memberikan pola kepemimpinan yang terarah, karena setiap generasi memberikan sistem sendiri. Continue reading

Keraton Kasunanan: Gari Sakmegaring Payung? (Kraton Solo II)

Pemerintah Belanda memang menjadi penjamin utama seorang Kangjeng Pangeran Adipati Anom bisa mulus mewarisi tahta kerajaan. Belanda dianggap mewujudkan stabilitas atas kerajaan-kerajaan di Jawa yang bertikai akibat pergantian kekuasaan. Ini ditunjukkan dengan struktur politik dan ekonomi di Mataram yang relatif semakin stabil setelah perang Pangeran Diponegoro 1825-1830, meskipun Belanda tetap mengeksploitasi kekayaan alam yang ada. Continue reading

Mataram dan Intrik Kepemimpinan (Kraton Solo I)

Nut jaman kelakone, adalah sebuah istilah Jawa yang sangat sering disinggung ketika suatu perubahan telah terjadi. Arti harfiah dari kalimat itu kira-kira, seorang manusia dalam kehidupannya harus bisa menyesuaikan diri sesuai dengan perubahan zaman yang memang telah dikehendaki oleh Tuhan. Pengertian simpel seperti itu, sesungguhnya memiliki banyak makna secara filosofis bagi seorang manusia Jawa. Continue reading

Kangjeng Ratu Kidul dan Bedaya Ketawang

Kangjeng Ratu Kidul dan Bedaya Ketawang Legenda Kangjeng Ratu Kidul sangat melekat pada dinasti Kerajaan Mataram. Konon menurut cerita yang berkembang, Kangjeng Ratu Kidul pada masa mudanya bernama Dewi Retna Suwida, seorang puteri dari Pajajaran anak Prabu Mundhingsari dari isteri yang bernama Dewi Sarwedi. la gemar bertapa sehingga memiliki kekuatan gaib, salah satunya ia dapat berganti rupa dari wanita ke pria, atau sebaliknya. Suatu ketika Dewi Retna Suwida menderita sakit lepra, dan untuk mengobatinya ia diharuskan berendam diri dalam suatu telaga di pinggir samudera. Konon pada suatu hari tatkala akan membersihkan mukanya, sang puteri melihat bayangan mukanya di permukaan air. Terkejut karena melihat mukanya yang rusak, ia lalu terjun ke samudra dan tidak kembali lagi ke daratan. Hilanglah sifat kemanusiaannya dan menjadi makhluk halus. Dengan kekuatan gaibnya, seluruh makhluk di samudera ditaklukkan dan menjadi ratu dari seluruh makhluk di sana.
Legenda ini sangat melekat di masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di sepanjang Laut Selatan. Begitu pula oleh Kerajaan Mataram, termasuk Keraton Kasunanan, Kangjeng Ratu Kidul dianggap sebagai Dewi Laut yang mampu menjaga eksistensi kerajaan. Bahkan kemudian terjadilah “perkawinan abadi” antara Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram yang tergambar dalam Tari Bedaya Ketawang. Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan konsep filosofi Jawa, pajupat kalima pancer, yang terkandung maksud ke empat penjuru mata angin yang memiliki kekuatan spiritual untuk menjaga kehidupan Keraton. Di sebelah timur dijaga oleh Kangjeng Sunan Lawu, seorang keturunan Majapahit yang berhasil meloloskan diri saat runtuhnya Majapahit dan kemudian menjadi lari ke Puncak Lawu. Di sebelah barat dijaga oleh oleh Kangjeng Ratu Sekar Kedhaton yang berada di Gunung Merapi, sementara di sebelah utara dijaga oleh Bathari Durga, sang Dewi Hutan, yang berada di Hutan Krendhawahana. Sementara Kangjeng Ratu Kidul berada di arah selatan.
Tari Bedaya Ketawang merupakan tarian sakral dan suci yang dipentaskan saat raja baru bertahta atau pada peringatan ulang tahun raja (tingalan jumenengan dalem). Mengutip kitab Wedhapradangga, pencipta Tari Bedaya Ketawang adalah Sultan Agung, raja pertama terbesar Kerajaan Mataram bersama Kangjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan.
Tari Bedaya Ketawang ini menggambarkan cinta birahi Kangjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senapati. Segala geraknya melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi walaupun selalu dapat dielakkan oleh Senapati, bahkan Ratu Kidul selalu memohon kepadanya agar mau menetap di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana. Namun Senapati tidak mau mengikuti kehendak Ratu Kidul itu karena masih ingin mencapai sangkan paran. Selanjutnya dengan perkataan yang santun, ia akhirnya mau memperisteri, dengan konsekuensi secara keturunannya yang bertahta di Jawa akan terikat janji dengan Ratu Kidul pada saat peresmian kenaikan tahta.
Kangjeng Ratu Kidul sendirilah yang diminta datang ke daratan untuk mengajarkan Tari Bedaya Ketawang ini kepada penari-penari kesayangan raja. Pelajaran itu diberikan setiap hari Anggara Kasih yang jatuh Selasa Kliwon. Gamelan yang dipakai untuk mengiringi Tari Bedaya Ketawang juga khusus, yakni gemelan Kiai Kaduk Manis dan Kiai Manis Renggo. Suasana khusuk harus tetap terjaga selama tarian ini dipentaskan. Selain berhubungan dengan suasana sakral dan religius, Bedaya Ketawang juga dipentaskan setahun sekali pada saat upacara peringatan ulang tahun kenaikan tahta. Selama tarian berlangsung tidak ada hidangan yang keluar dan tidak dibenarkan untuk merokok atau aktivitas lain yang bisa mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat suci itu.
Mengingat Tari Bedaya Ketawang merupakan tarian suci, maka para penarinya pun juga harus suci, baik pada saat latihan maupun pada waktu pergelarannya. Aturan ini harus benar-benar diterapkan, sebab menurut adat yang dipercaya, para penari itu akan langsung berhubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Untuk itu, dibutuhkan penari yang sudah cukup dewasa jiwanya sehingga kekhusukan dan ketekukannya menari dapat terjamin. Bila sedang halangan bulanan, lebih baik tidak mendaftarkan diri dulu sehingga dibutuhkan juga penari-penari cadangan.
Ada kepercayaan pada saat Tari Bedaya Ketawang dipentaskan, Kangjeng Ratu Kidul selalu hadir bahkan ikut menari. Tidak setiap orang dapat melihatnya, kecuali mereka yang
sangat peka inderawinya. Begitu pula saat latihan, Ratu Kidul akan membetulkan setiap kesalahan para penarinya yang terkadang penari merasakan kehadirannya. Penari Bedaya
Ketawang berjumlah sembilan orang, masing-masing disebut batak, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, apit meneg, gulu, dhadha, dan boncit. Selama menari tentu saja susunannya tidak tetap dan berubah-ubah sesuai adegan yang dilambangkan.
Tarian Bedaya Ketawang ini dipentaskan di Sasana Sewaka dengan selalu menempatkan posisi raja berada di kanan mereka. Namun pada saat kompleks Keraton Kasunanan terbakar pada 1985 silam, Paku Buwono XII memindahkannya ke Keraton Kulon dan sempat dipergelarkan di sana selama tiga kali. Ini dilakukan demi eksistensi raja. Selama raja masih menduduki tahta, maka Bedaya Ketawang harus tetap ada. 11)